REMAJA

Senin, 01 Maret 2010

     Kata remaja berasal dari kata latin adolescere (kata bendanya adolescentia yang berarti remaja) yang berarti tumbuh atau menjadi dewasa. Menurut Jean Piaget, secara psikologi masa remaja adalah usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa di bawah tingat orang-orang yang lebih tua melainkan berasa dalam tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak. Sedangkan menurut WHO (1974) remaja adalah suatu masa dimana:
  1. Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya saat ia mencapai kematangan seksual.
  2. Individu mengalami perkembangan psikologi dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa.
  3. Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial-ekonomi ynag penuh kepada keadaan yang relatif lebih mandiri.
     Lalu bagaimana pengertian istilah remaja di Indonesia? Dra. Singgih Gunarsa dan suami (1981) mengatakan bahwa batas usia masa remaja Indonesia adalah 12-23 tahun dengan rincian usia 12/13 sampai 17/18 disebut remaja awal dan usia 17/18-21/22 disebut remaja akhir. Namun definisi remaja ini dibatasi khusus untuk yang belum menikah. Menilik lebih dala, dalam parohan akhir periode pubertas atau parihan awal masa remaja awal, terdapat gejala-gejala yang disebut gejala-gejala negative phase. Hurlock menguraikan gejala-gejala negative phase tersebut sebagai berikut:
  1. Keinginan untuk menyendiri.
  2. Berkurang kemauan untuk bekerja.
  3. Kurang koordinasi fungsi-fungsi tubuh.
  4. Kejemuan.
  5. Kegelisahan.
  6. Pertentangan sosial.
  7. Penantangan terhadap kewibawaan orang dewasa.
  8. Kepekaan perasaan.
  9. Kurang percaya diri.
  10. Mulai timbul minat pada lawan seks.
  11. Kepekaan perasaan-susila.
  12. Kesukaan berkhayal.
A. CIRI-CIRI REMAJA AWAL
1. Ketakstabilan keadaan perasaan dan emosi
    GranvilleStanley Hall menyebut masa remaja sebagai perasaan yang sangat peka, dalam arti remaja mengalami badai dan topan dalam kehidupan perasaandan emosinya (storm and stress). Tidak heran jika kita jumpai seorang remaja sangat bergairah dalam bekerja lalu tiba-tiba menjadi rasa sedih yang meledak-ledak, sahabat menjadi cinta, dll.
2. Hal sikap dan moral, terutama menonjol menjelang akhir remaja awal (15-17 tahun)
    Organ-organ seks yang telah matang menyebabkan remaja mendekati lawan seksnya, sehingga ada keberanian untuk menunjukkan sex appeal dan melakukan tindakan-tindakan yang menyerempet bahaya yang dinilai masyarakat kurang sopan. Dan keadaan inilah kemudian sering timbul masalah dengan orang tua / orang dewasa lainnya.
3. Hal kecerdasan / kemampuan mental
    Menurut Alfred Binet, pada usia 12 tahun kemampuan remaja untuk emngerti informasi abstrak, baru sempurna. Kemudian pada usia 14 tahun remaja sudah mengambil kesimpulan dan informasi abstrak secara sempurna. Akibatnya si remaja pada usia awal ini suka menolak hal-hal yang tidak masuk akal apalagi jika tidak disertai alasan yang rasional.
4. Hal status remaja awal sulit ditentukan
    Si remaja awal mendapat sumber kebingungan karena di lain waktu orang dewasa enggan memberinya tanggung jawab karena ia dianggap masih kekanak-kanakan. Namum, di lain kesempatan si remaja awal sering mendapat teguran sebagai orang yang sudah besar jika sedang melakukan hal yang kekanak-kanakan.
5. Walhasil, remaja awal banyak mengalami masalah
    Antara lain ciri-ciri tersebut di atas, menjadikan remaja awal sebagai individu yang banyak masalah di hadapannya. Sebab-sebab lain adalah karena kemampuaaaan berfikir remaja awal yang dikuasai oleh emosionalitasnya, berkurangnya bantuan dari orang dewasa dalam memcahkan masalahnya (bukan karena orang dewaa tidak mau membantu, tetapi remaja awal sendiri yang menolak lantaran dengan dia merasa lebih mampu dan menganggap orang dewasa terlalu tua untuk memahami perasaan, emosi, sikap, kemampuan pikir dan status mereka).
6. Masa remaja awal adalah masa yang kritis
    Dikatakan krits karena remaja awal dihadapkan pada soal apakah ia dapat menghadapi da memecahkan masalahnya atau tidak.

B. CIRI-CIRI REMAJA AKHIR
1. Stabilitas timbul dan meningkat
    Dalam hal ini, orang tua yang lebih demokratus lebih menunjang cepatnya proses menjadi stabil. Hal ini dikarenakan remaja akan lebih berkesempatan banyak mengurusi keperluan-keperluannya sendiri, membuat rencana, membuat alternatif, mengambil keputusan sendiri serta bertanggung jawab terhadap keputusan-keputusannya.
2. Citra diri sikap pandangan yang lebih realistis
    Remaja mulai menilai diirnya sebagaimana adanya, menghargai miliknya, keluarganya, orang-orang lain seperti keadaan sesungguhnya. Dari sini kemudian akan timbul keadaan sesungguhnya. Dari sini kemudian akan timbul perasaan puas dan menjauhkan mereka dari rasa kecewa.
3. Menghadapi masalahnya secara lebih matang
    Remaja memecahkan masalah dengan usaha sendiri secara lebih matang dan realistis, baik dengan biskusi-diskusi ataupun sekedar bertanya-tanya kepada teman sebaya dan orang dewasa. Langkah-langkah pemecahan masalah itu mengarahkan remaja akhir pada tingkah laku yang lebih well adjusted, lebih dapat menyesuaikan diri dalam banyak situasi perasaan-perasaan sendiri.
4. Perasaan lebih tenang
    Oleh karena mereka lebih realistis entah dalam sikap, minat, cita-cita, maka mengakibatkan mereka tidak terlalu kecewa atas kegagalan-kegagalan kecil yang dijumpai. Dan remaja akan lebih kuat jika mereka mendapat respek dari orang dewasa di sekelilingnya.

        Ciri-ciri remaja awal dan akhir di atas merupakan ciri-ciri remaja awal dan akhir pada umumnya. Penyimpangan-penyimpangan dari hal-hal yang umum ini sangat mungkin terjadi sebagai akibat dari berbagai ragam pengaruh, misalnya pengaruh situasi dan kondisi lingkungan keluarga dan masyarakat serta lingkungan kelompok teman-teman sepergaulan mereka.